Selasa, 28 Februari 2012

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah satu dari 72 golongan yang tidak berada di atas jalan keselamatan (rekaman pelajaran Al-Muntaqa di kota Tha‘if, 2 tahun sebelum wafatnya beliau rahimahullah)

Kata Siapa Ikhwanul Muslimin Sesat? (Membedah Isu Kesesatan Ikhwanul Muslimin)

14 Juli 2011
Di dunia ini, dari banyaknya jumlah manusia hanya sedikit saja dari mereka yang sadar. Dari sedikit yang sadar itu hanya sedikit yang ber-Islam. Dari sedikit yang ber-Islam itu hanya sedikit yang berdakwah. Dari mereka yang berdakwah lebih sedikit lagi yang berjuang. Dari mereka yang berjuang sedikit sekali yang bersabar. Dan dari mereka yang bersabar hanya sedikit sekali dari mereka yang sampai akhir perjalanan
-Hasan Al Banna -
Siapa yang tidak mengenal Ikhwanul Muslimin (IM)? Sebuah gerakan yang didirikan oleh Hasan Al-Banna. Jama’ah IM awalnya berdiri 1928 dan baru pada 1941 IM memiliki anggota 100 orang yang terpilih oleh Hasan Al-Banna dan akhirnya menelorkan tokoh-tokoh ternama seperti Sayyid Quthb, Umar Tilmisani, Muhammad Al-Ghazali, Said Hawa, Musthafa As-Siba’i, dll.
            Organisasi yang booming karena genrenya yang khas dari pergerakan lain di seluruh dunia. Seakan mampu menyihir pandangan seluruh ummat Islam bahwa IM adalah organisasi terbaik. Padahal organisasi ini justru menyimpan racun dibalik tampilannya dan duri di balik keindahannya.

            Pemikiran Ikhwanul Muslimin
            Sejak awal mula didirikan pergerakan ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Jamaludin Al Afghani, seorang penganut Syi'ah Babiyah, yang berkeyakinan wihdatul wujud (bersatunya hamba dengan Dzat Allah), bahwa kenabian dan kerasulan diperoleh lewat usaha, sebagaimana halnya menulis dan mengarang. Dia -Jamaludin Al Afghani- kerap mengajak kepada pendekatan Sunni-Syiah (yang sangat tidak mungkin dilakukan), bahkan juga mengajak kepada persatuan antar agama (Da’wah Ikhwanul Muslimin fi Mizanil Islam hal. 36, Farid bin Ahmad bin Manshur).
            Dakwah Ikhwanul Muslimin
            IM adalah organisasi yang mengaku berdakwah atas manhaj Salaf, padahal pada hakikatnya manhaj dakwah mereka adalah dakwah yang telah jauh dari Islam. Dibangun atas bid’ah, mereka bukanlah ahlul hadits karena mereka sangat jarang sekali menukil sunnah Nabi dan bahkan mereka menyimpang dari sunnahnya, melenceng dari salafushshalih, berjalan di atas shufiyah, beraqidah tidak jelas dan bercampur aduk, dan lebih berorientasi kepada politik ketimbang aqidah dan tauhid (Disarikan dari tulisan Syaikh Abu Abdussalam Hasan bin Qasim al-Hasani ar-Riimi dalam Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyah Edisi 37 – 1429H)
Sementara itu, Hasan Al-Banna selaku pendiri IM menjelaskan mengenai manhaj dakwah organisasinya itu. Bahwa dakwah Ikhwanul Muslimin tidaklah ditujukan untuk melawan satu aqidah, agama, ataupun golongan, karena faktor pendorong perasaan jiwa para pengemban dakwah jama’ah ini adalah berkeyakinan fundamental bahwa semua agama samawi berhadapan dengan musuh yang sama, yaitu atheisme (Qafilah Al-Ikhwan As-siisi 1/211)
Mengenai pernyataan Al-Banna, Utsman Abdus Salam Nuh mengomentari ucapan itu dalam bukunya At-Thoriq ila Jama’ati Al-Umm halaman 173: “Bagaimana bisa disebut dakwah Islamiah, kalau tidak sudi memerangi aqidah-aqidah yang menyimpang, sedangkan Islam sendiri diturunkan untuk memberantas berbagai penyimpangan keyakinan dan membersihkan hati manusia dari keyakinan-keyakinan itu”
            Bukti Kesesatan Ikhwanul Muslimin dan Tokoh-tokohnya
            Dan kali ini kami beberkan beberapa kesesatan IM beserta bukti-buktinya. Karena sesungguhnya IM adalah organisasi dakwah yang lebih menyeru kepada kesesatan daripada kebaikan.
            Penyatuan Seluruh Agama dan Aliran
        Hasan Al-Banna dalam gerakannya menyatukan semua orang yang mengaku Islam apakah mereka berakidah sufi, wihdatul wujud, syi’ah dan rafidhah.        (Turkah Hasan Al Banna wa Ahammul Waritsin, Syaikh Ayyid As-Syamari)
            Hasan Al-Banna pernah memberikan ceramah,
“...maka saya ikrarkan bahwa permusuhan kita terhadap orang-orang Yahudi bukanlah merupakan permusuhan (atas dasar) agama, karena Al Quran yang mulia menganjurkan (kita) untuk bersahabat karib dan berteman dekat dengan mereka, dan (syariat) islam (sendiri) adalah syariat yang bersifat kemanusiaan sebelum menjadi syariat yang bersifat qaumiyyah (untuk kaum/bangsa tertentu), dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji mereka (orang-orang Yahudi) serta menjadikan adanya kesesuian antara kita dan mereka...” (Fii Qaafilatil Ikhwaanil Muslimin, Abbas As-Siisy)
Dalam sebuah perayaan IM Hasan Al Banna mengundang beberapa tokoh dan pendeta Nashrani dan menempatkan tempat duduk mereka di antara orang-orang anggota IM, dan dalam kesempatan tersebut juga Hasan Al Banna menyampaikan sebuah pidato yang di dalamnya dia memanggil/menyebut orang-orang Nashrani dengan sebutan “Ikhwaaninaal Masiihiyyiin” (saudara-saudara kami yang beragama Nashrani) (Hasan Al Banna, Mawaaqifu fii ad Da’wati Wat Tarbiyyah hal. 120)
Bahkan dalam kitab yang sama (hal. 264-265), Hasan Al-Banna menyebut bahwa Islam melarang seorang muslim fanatik terhadap agamanya.
Umar At-Tilmisani, pemimpin IM ke-3 menyatakan,
Usaha penyatuan antara Syi’ah dan Sunnah merupakan kewajiban para ahli fiqh zaman ini.” (Majalah ad-Da’wah al-Mishriyyah edisi 105, Juli 1985 M).
At-Tandzim ad-DaulI Li Jama’ati al-Ikhwan al-Muslimin (Organisasi Internasional Kelompok Ikhwanul Muslimin) menerbitkan memorandum terkait Revolusi Islam (Syi’ah) Iran yang sedang berlangsung,
“Dengan ini, Organisasi Internasional Kelompok Ikhwanul Muslimin menyeru setiap pemimpin organisasi pergerakan Islam di Turki, Pakistan, India, Indonesia, Afghanistan, Malaysia, Philipina dan organisasi Ikhwanul Muslimin di negeri-negeri Arab, Eropa dan Amerika untuk mengirim utusan mereka guna membentuk suatu delegasi yang akan diberangkatkan ke Teheran dengan menggunakan pesawat khusus. Dengan tujuan untuk menemui al-Imam Ayatullah al-Khomeini, dalam rangka menekankan dukungan pergerakan Islam yang diwakili oleh Ikhwanul Muslimin, Hizb as-Salamah Turki, al-Jama’ah al-Islamiyah di Pakistan, al-Jama’ah al-Islamiyah di India, Jama’ah Partai Masyumi di Indonesia, Angkatan Belia Islam Malaysia, al-Jama’ah al-Islamiyah di Philipina. Pertemuan itu merupakan salah satu tanda kebesaran Islam dan kemampuannya untuk mencairkan perbedaan-perbedaan ras, kebangsaan dan mazhab…” (Majalah al-Mujtama’ al-Kuwaitiyah, edisi 434, 25/2/1979)
Syirik, Berdoa Pada Kuburan
Umar At-Tilmisani, Al-Mursyid Al-‘Am (Pemimpin Umum) Ikhwanul Muslimin ke-3, menyatakan bahwa,
“Sebagian orang menyatakan bahwa Rasulullah memohonkan ampun untuk mereka (penziarah kubur) tatkala beliau masih hidup saja. Tetapi saya tidak mendapatkan alasan pembatasan itu pada masa hidup beliau saja. Dan di dalam Al-Quran, tidak ada yang menunjukkan adanya pembatasan tersebut... Oleh karena itu saya cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa beliau telah memohonkan ampunan dikala beliau masih hidup, maupun sesudah matinya - bagi siapa yang mendatangi kuburan yang mulia” (Syahidu Al-Mihrab Umar bin Al-Khattab hal 225-226, Umar At-Tilmisani)
Mushthafa As-Siba`i, Al-Mursyid Al-`Am dari Ikhwanul Muslimin dari Syiria pernah menggubah qashidah yang dibacakannya di kuburan Nabi. Yang di antara bait-baitnya adalah: ''Wahai tuanku, wahai kekasih Allah. Aku datang diambang pintu kediamanmu mengadukan kesusahanku karena sakit. Wahai tuanku, telah berlarut rasa sakit dibadanku. Karena sangat sakitnya, akupun tak dapat mengantuk maupun tidur.....'' (Al-Waqafat hal. 21-22)
Beraqidah Tidak Lurus
Sayyid Qutb, tokoh besar mereka yang akhirnya dihukum gantung, beraqidah wihdatul wujud (penyatuan Allah dengan makhluk) sebagaimana yang ia sebutkan,
“Hakekat yang ada adalah wujud yang satu. Maka di alam ini tidak ada yang hakekat kecuali hakekat Allah. Dan di sana tidak ada wujud yang hakiki kecuali wujud-Nya. Perwujudan selain Allah hanyalah sebagai perwujudan yang bersumber dari perwujudan yang hakiki itu” (Fii Zhilalil Al-Qur’an (6/4002))
Sementara itu tokoh IM yang lainnya, Said Hawa, angkat bicara tentang pandangannya mengenai aqidah kaum muslimin. Dia beranggapan bahwa umat Islam pada setiap masanya, (lebih banyak -red) yang beraqidah Asy`ariyyah-Maturidiyyah (termasuk golongan pentakwil nama dan sifat Allah). Sehingga dengan itu beliau berangapan bahwa itulah aqidah yang sah dalam Islam. (Jaulah fil Fiqhain – Sa`id Hawwa).
Menghidupkan Bid’ah
Mengaku sebagai organisasi yang menyeru kepada sunnah, kok malah menghidupkan bid’ah?
“Ustadz Al-Banna beranggapan bahwa menghidupkan hari-hari besar Islam (selain dua hari `ied), adalah termasuk tugas harakah-harakah (gerakan) Islam. Beliau juga menganggap bahwa suatu hal yang aksiomatik alias pasti, kalau dikatakan bahwa pada zaman modern ini memperingati hari besar semacam maulid nabi dan yang sejenisnya, dapat diterima secara fiqh dan harus mendapat prioritas tersendiri” (At-Tarbiyyah Ar-Ruhiyyah, Said Hawwa)
“IM mengadakan pesta perayaan dalam rangka memperingati peristiwa perang Badar di cabang IM wilayah ‘Abbasiyyah di Kairo, dalam perayaan tersebut disampaikan ceramah mursyid umum IM yang kemudian dimuat dalam surat kabar pada hari berikutnya” (Mahmud ‘Abdul Halim, Al Ikhwanul Muslimun Ahdaatsun Shana’atit Taarikh (3/127))
Fanatik Pada Ulama dan Pemimpin Mereka.
”(Banyak) dari kalangan pengikut Ikhwanul Muslimin yang mengetahui bahwa mereka bodoh dalam masalah din (agama). Apabila kita menyatakan kepadanya : ini halal, atau ini haram adalah sudah kita tegakkan dalil-dalilnya, ia akan mengelak sambil menjawab: Yusuf Qordhawi di dalam al-halal wal haram bilang begini, Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah, atau Hasan Al-Banna di dalam Ar-Rasail atau Sayid Quthub dalam tafsir Fi Dzi lalil Quran bilang begini! Bolehkah dalil-dalil yang jelas dipatahkan dengan ucapan-ucapan mereka?” (Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, Al-Makhraj Minal Fitan hal. 86)
“Pada tanggal 12 Februari 1953 M para anggota Majelis Tsaurah menyatakan keinginan mereka untuk menziarahi tempat pemakaman Hasan Al Banna (dalam rangka) mengenang kematiannya, maka keinginan tersebut disambut baik oleh pihak IM, sehingga di tempat pemakaman mereka disambut oleh sejumlah besar anggota IM, yang dipimpin oleh Al-Mursyid Al-‘Am Ikhwanul Muslimin (Hasan Al Hudhaiby, pemimpin IM yang ke-2).” (Mahmud ‘Abdul Halim, Al Ikhwanul Muslimun Ahdaatsun Shana’atit Taarikh (3/179))
Kesimpulan
Sebenarnya kesesatan-kesesatan yang ada pada organisasi dan tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin masih sangat banyak. Tidak akan cukup bila kami beberkan semua di artikel yang singkat ini.
Setelah membaca risalah singkat di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa Ikhwanul Muslimin adalah organisasi dakwah yang lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Organisasi ini sangatlah lekat pada kesesatan dan sangat dekat pada kebodohan. Masih banyak tokoh atau badan lain yang bisa dijadikan rujukan sebagai Syaikh Bin Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Lajnah Ad-Daimah, dll.
Sementara itu, untuk kelengkapan dan kesempurnaan artikel, kami tambahkan keterangan para ulama mengenai Ikhwanul Muslimin.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz menyatakan bahwa
“Harakah Ikhwanul Muslimin telah dikritik oleh para ahlul 'ilmi yang mu'tabar (terkenal/dapat dipercaya/diperhitungkan). Salah satunya (karena) mereka tidak memperhatikan masalah da'wah kepada tauhid dan memberantas syirik serta bid'ah. Maka sewajibnya bagi Ikhwanul Muslimin untuk memperhatikan da'wah Salafiyah da'wah kepada tauhid, mengingkari ibadah kepada kubur-kubur dan meinta pertolongan kepada orang-orang yang sudah mati seperti Hasan, Husein, Badawi dan sebagainya.Wajib bagi mereka untuk mempunyai perhatian khusus dengan makna Laa Ilaaha Illallah Karena inilah pokok agama dan suatu yang pertama kali didakwahkan oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam yang mulia di kota Mekkah!!” (Al-Majalah edisi 806 tanggal 25/2/1416 H Hal. 24)
Pendapat dan Fatwa Para Ulama tentang Ikhwanul Muslimin
Tidak benar bila dikatakan bahwa Ikhwanul Muslimin termasuk Ahlus Sunnah, karena mereka memerangi As-Sunnah.” (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, diambil dari kaset Fatwa Para Ulama seputar Jamaah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin, studio Minhajus Sunnah, Riyadh)
Ikhwanul Muslimin dan Jamaah Tabligh bukan termasuk orang-orang yang berada di atas manhaj yang benar. Sesungguhnya seluruh jamaah dengan penamaan- penamaannya semacam itu tidak punya sandaran pada pendahulu umat ini.” (Syaikh Shalih Al-Luhaidan, diambil dari rekaman kaset Fatwa Para Ulama tentang Jamaah-jamaah dan Pengaruhnya di Negeri Al- Haramain, Studio Minhajus Sunnah, Riyadh)
Sementara itu, Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya,
 “Apa hukum keberadaan kelompok-kelompok seperti Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan lain-lain di negeri muslimin secara umum?”
Jawab:
“Jamaah-jamaah pendatang ini wajib untuk tidak kita terima, Karena mereka ingin menyelewengkan kita dan memecah-belah kita. Menjadikan yang ini ikut jamaah Tabligh, yang ini ikut Ikhwanul Muslimin, yang ini begini… Kenapa berpecah seperti ini? Ini termasuk kufur terhadap nikmat Allah. Kita berada di atas satu jamaah dan agama kita jelas. Kenapa kita menjadikan yang rendah sebagai ganti yang baik?” (Al-Ajwibah Al- Mufidah)
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah satu dari 72 golongan yang tidak berada di atas jalan keselamatan (rekaman pelajaran Al-Muntaqa di kota Tha‘if, 2 tahun sebelum wafatnya beliau rahimahullah)
Demikian risalah yang mampu kami sampaikan. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan yang diampuni Allah.
Wallahu a’lam.
Bogor, 14 Juli 2011. Jundullah Abdurrahman Askarillah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar